Sudah Jatuh Menimpa Paku
14.09 | Author: Agoenkz
Biasanya ketika kita terkena kesialan beruntun, akan ada satu peribahasa yang tepat untuk diucapkan; "Sudah Jatuh Tertimpa Tangga". Tapi kali ini, kata tertimpa tangga saya ganti dengan menimpa paku. Soalnya kesialan ini memang cukup memalukan dan menghujam (walah..bahasanya...) perasaan. Apalagi ini melibatkan saya dan teman-teman sekelas XI IPS 1.

Ceritanya begini....
Sejak dua minggu lalu -kalau nggak salah- ada acara seru di sekolah. Kompetisi olahraga bola basket dan bola voli. Masing-masing ada buat anak cowok dan ada juga buat anak cewek. Masing-masing kelas wajib mengirim perwakilan untuk bertanding. Kalau tidak, terkena denda lima puluh rebai rupiah. Terpaksa ikutan deh...

Payahnya, pertandingan selalu diadakan sore hari secara bergiliran. Ada tiga tim yang bertanding untuk masing-masing cabang. Baik cewek maupun cowok. Kelas saya mendapat giliran pertama untuk pertandingan voli putri hari sabtu lalu. Dan dengan didukung enam anak perempuan -pastinya lah-, kamipun maju dengan semangat Espada Stark. Dan hasilnya jelas, terbantai dua set berturut-turut dengan selisih angka lebih dari lima poin. Wah...



Next, tepat setelah pertandingan volly putri yang berakhir memalukan, giliran anak-anak cowok yang bermain basket. Awalnya semua terlihat biasa, optimis, ada juga yang cukup serius hingga membawa kaos ukuran XXL untuk ikutan bertanding-untung nggak jadi. Beberapa saat kemudian, peluit berbunyi dan pertandingan dimulai. Anak-anak perempuan yang baru saja kalah main voli berteriak-teriak histeris lebay gimana gitu. Bahkan ada juga yang memanggil-manggil nama Tun Fang Xiang (sorry kalau salah, saya jarang nonton hot shot). Pertandingan ini cukup lucu juga karena ada pemain pura-pura jatuh di area keranjang kayak diving di permainan sepak bola. Ada juga yang teriak "Off Side! Off Side!" ketika bola dioper melewati pemain belakang. Lebay. Lagi-lagi kami kalah dengan selisih tujuh angka *_*.

Dan baru hari senin lalu, kami bertanding lagi. Kali ini voli untuk anak cowok. Oke, semuanya sudah siap kecuali saya. Aku tidak bawa kaos olahraga!! Tapi tenang, kali ini semua anak cowok-total 10 orang pada berangkat semua (kemarin cuma datang delapan). Saya siap jadi suporter. Tapi..... dua orang hilang, satu orang emang nggak mampu main. Dan mau tak mau, saya yang lack sports talent dan paling-paling cuma 'agak bisa' serve ini harus main.

Awalnya mungkin baik-baik saja, kami sempat unggul, tapi anak-anak kelas sepuluh itu memang cukup pintar main ego. Skor turun naik. Berkali-kali saya gagal mengembalikan bola karena nervous. Saya juga dapat beberapa kesempatan serve. Sayang, team leader nggak percaya sama saya sehingga sebagian besar peluang itu hilang. Padahal, satu-satunya serve saya kemarin bisa lancar. Huh, jadi orang lack talent memang kadang menyebalkan. Set pertama selesai dengan kekalahan.

Set kedua dimulai. Saya diganti setelah lawan mendapat delapan skor. Nggak ada perubahan berarti. Tetap kalah, bahkan dengan selisih lebih besar dibanding set pertama.

Tamat

Nah, gimana nggak malu? kalah tiga kali berturut-turut. Dua diantaranya kalah dari anak kelas satu. Semuanya kalah dengan skor telak. Dan tahukah, setelah kalah itu, kami semua berfoto-foto, mengancam wasit, dan bersorak bersama tanpa rasa malu. Pain In The A**!!!

Tapi yang paling nggak bisa saya lupa adalah tampang lawan-lawan kami saat bersalaman usai pertandingan. Mereka tersenyum cengengesan penuh kepuasan sambil menjabat tangan dan bilang kalau 'seharusnya kami yang menang'. Sambil memendam rasa sebal dan dongkol, saya selamati mereka dengan memikirkan assassination plot yang jitu untuk mereka. Bwa Ha Ha Ha Ha Ha....... (evil) (stress)

update:cerita ini akhirnya sempurna menjadi 'sudah jatuh tertimpa paku' dengan kekalahan tim basket cewek hari sabtu 23 mei lalu
This entry was posted on 14.09 and is filed under , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

0 komentar: