Be A 'real' Man
13.18 | Author: Agoenkz
Kali ini, biar isi blog ini sedikit mutu, saya mau coba bikin review acara televisi. Review ini asli dari pikiran saya sendiri. Ini pendapat saya tentang acara "Be A Man"-Global TV.


Oke, saya tahu ini jelas sudah sangat telat. Tapi berhubung baru ingat sekarang, ya saya tulisnya sekarang. Sebelumnya, Be A Man itu acara apaan sih? Gini, setahu saya Be A Man itu sebuah kompetisi bagi para laki-laki yang telah mengubah diri menjadi perempuan (banci). Sesuai judul acara ini, mereka dilatih dan diuji mentalnya untuk kembali menjadi lelaki sejati. Reality Show yang menurut saya berani, seru, dan berbuah positif.

Dulu saya sempat nonton Angkatan 1 dan saya sukses dibuat terpingkal-pingkal oleh tingkah para om-om kemayu itu. Ada jerit-jerit gara-gara takut jatuh waktu main panjat tebing, ada yang mempermak kaos Be A Man jadi cewek banget, ada yang bingung kehilangan make-up dan lain-lain. Sementara saya terpingkal-pingkal, ibu saya terus mengucap naudzubillah mindzalik.

Sekarang pas saya udah banyak belajar cara mengamati yang benar, saya tak lagi tertawa-tawa. Dan saya merasa untuk kemudian hari acara ini perlu diperbaiki dalam beberapa hal.
  1. Sistem eliminasinya mestinya jangan mencari satu orang yang bisa jadi 'A Man' terus yang belum benar kondisinya disisihkan, tapi sisihkan satu-satu yang udah 'sembuh'. Jadi mereka semua bisa betul-betul tobat.
  2. Jangan lagi memanggil para peserta dengan nama mereka sebagai 'wanita'. Panggil mereka dengan nama yang manly dan wajar.
  3. Pemberian latihan kemiliteran memang bagus, tapi lebih bagus lagi kalau ada pencerahan agama.
  4. Jangan biarkan para peserta membawa serta peralatan mereka yang mencerminkan seorang banci.
  5. Suruh para peserta cukur rambut.
Nah, itu saran saya. Mudah-mudahan aja kalau Global TV memang berniat baik membuat para peserta Be A Man itu tobat, saran ini bisa dipertimbangkan. Jujur saya pikir Be A Man bisa menjadi Reality Show yang berdampak positif bagi para peserta dan pemirsanya. Bukan sekedar hiburan semata.
This entry was posted on 13.18 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

0 komentar: